Sabtu, 27 Juni 2015

Menganalisis film menurut teori-teori humanistik



Nama : Sisca Alvionita
NPM  : 1A514308
Kelas  : 1PA13
Tugas  : Softskill (Menganalisis film menurut teori humanistik)

Analisis Film “Life is Beautiful” Menurut Teori-Teori Humanistik

1.      Abraham Maslow


Abraham Maslow mengeluarkan teori mengenai hierarki kebutuhan manusia, yakni sebagai berikut:
a.       Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan yang paling dasar dan bersifat homeostatik (menjaga keseimbangan unsur-unsur fisik) seperti makanan, istirahat, seks dan lainnya. Kebutuhan ini sangat kuat dalam keadaan absolut (kelaparan dan haus) maka semua kebutuhan lain ditinggalkan dan orang mencurahkan semua kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan ini.
Dalam film tersebut, Guido sempat mengambil enam butir telur saat pertama kali bertemu dengan Dora. Tindakan yang sebenarnya merupakan “hadiah” dari Dora ini tentu didasari akan adanya kebutuhan fisiologis.
b.      Kebutuhan akan Rasa Aman
Kebutuhan ini muncul ketika kebutuhan fisiologis terpuaskan, dan bersifat pemuasan pada hal keamanan, stabilitas, keteraturan, kebebasan dari rasa takut maupun cemas. Pada dasarnya, kebutuhan ini adalah kebutuhan untuk mempertahankan hidup, karena fisiologis itu mempertahankan untuk jangka pendek dan rasa aman mempertahankan untuk jangka panjang. Contoh-contoh bentuk rasa aman antara lain: kebutuhan pekerjaan dan gaji yang tetap, keagamaan yang merujuk pada keseimbangan hidup, dan keselamatan ketika terjadi bencana.
Dalam film, Guido berusaha sebisa mungkin membuat suasana pelik dan menderita sebagai akibat dari ancaman Nazi dengan bercerita pada anaknya, Joshua bahwa ini semua hanya permainan. Ia, Joshua, dan orang-orang lain memiliki kebutuhan akan rasa aman, salah satunya diwujudkan Guido dengan berpikir positif dan berusaha membuat orang lain tersenyum.
c.       Kebutuhan akan Kasih Sayang
Kebutuhan ini muncul ketika kebutuhan fisiologis dan keamanan terpuaskan. Kebutuhan ini menjadi tujuan yang dominan ada pada manusia karena orang sangat peka terhadap penolakan kesendirian kehilangan sahabat atau cinta, maka kebutuhan ini penting sepanjang hidup. Menurut Maslow, cinta tidak sama dengan seks, cinta adalah hubungan sehat antara sepasang manusia yang melibatkan persaan saling menghargai, menghormati dan mempercayai.
Tidak mudah bagi Guido untuk bisa mendapatkan cinta dan hati Dora, guru sekolah cantik pujaan hatinya. Apalagi Dora sebenarnya adalah tunangan pejabat fasis yang menghalangi usaha Guido mendirikan toko buku. Namun bermula dari kebutuhan akan kasih sayang, Guido mampu melakukan banyak hal untuk mendapatkan cinta Dora, salah satunya dengan mencari perhatiannya, dengan membuatnya masuk ke mobilnya saat hujan deras, dan membawa Dora dan berbicara banyak hal di suatu tempat.
d.      Kebutuhan akan Penghargaan Diri
Kepuasan kebutuhan ini akan menimbulkan perasaan dan sikap percaya diri, rasa diri berharga, mampu berguan dan penting. sebaliknya frustrasi akan membuat dirinya canggung, inferior, pasif dan lainnya. Kebutuhan ini memiliki dua jenis, yaitu kebutuhan untuk bisa menghargai diri sendiri dan kebutuhan untuk mendapatkan penghargaan dari orang lain.
Guido dalam film “Life is Beautiful” betul-betul mampu menghargai dirinya sendiri. Dengan demikian ia akan dengan mudahnya menghargai orang lain. Salah satunya adalah ketika membuat kesalahan dengan menjatuhkan pot ke seorang pejabat Fasis, ia kemudian meminta maaf kepadanya dan bersifat jenaka, meski si pejabat marah-marah. Hal ini berarti sangat asertif pada diri sendiri dan mampu membuat orang di sekitarnya tersenyum.

e.       Kebutuhan akan Aktualisasi Diri
Sesudah semua kebutuhan dasar terpenuhi, maka muncullah kebutuhan aktualisasai diri yang membuat seseorang mampu untuk memaksimalkan potensi-potensinya. Aktualisasi diri adalah keinginan untuk memperoleh kepuasan dengan dirinya sendiri (self fulfillment) untuk menyadari semua potensi dirinya, untuk menjadi apa saja yang ia dapat lakukan dan untuk menjadi kreatif serta bebas mencapai puncak prestasi potensinya.
Salah satu perilaku Guido yang menunjukkan kebutuhan aktualisasi diri adalah ketika ia berjuang sedemikian rupa untuk mendirikan sebuah toko buku. Tak berat memang, namun idealisme tentang toko buku tersebut membuatnya bertahan dan terus berjuang.